25 C
Tangerang
Thursday, February 5, 2026

Hadapi Bencana Hidrometeorologi, Kepala BMKG Tekankan Peran Informasi dari Hulu ke Hilir

- Advertisement -spot_imgspot_img
- Advertisement -spot_imgspot_img

Jakarta (Wow.tangerang.com) – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyatakan bahwa pengelolaan informasi yang andal, terintegrasi, dan berkelanjutan dari hulu ke hilir merupakan pilar utama dalam manajemen risiko bencana hidrometeorologi. Informasi yang dinilai kuat menjadi fondasi penting dalam mendukung sistem peringatan dini, upaya mitigasi, hingga pengambilan keputusan kebencanaan yang efektif.

Hal tersebut disampaikan saat menjadi pembicara dalam webinar bertajuk “ Peringatan Dini, Tindakan Dini : Kilas Balik Bencana Hidrometeorologi sebagai Dasar Rekomendasi Aksi Mendatang” yang diselenggarakan secara  hybrid  oleh Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu (17/12/2025).

Dalam paparannya, Faisal mengungkapkan bahwa berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kejadian bencana di Indonesia masih didominasi oleh banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem yang terjadi hampir di seluruh wilayah. Dinamika atmosfer, termasuk pengaruh siklon tropis seperti Cempaka, Seroja, dan Senyar, turut memperparah intensitas hujan ekstrem yang memicu banjir dan longsor.

“Secara umum trennya terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga kewaspadaan dan kesiapsiagaan harus diperkuat secara berkelanjutan,” ungkap Faisal.

Menurutnya, tantangan tersebut perlu dijawab melalui penguatan sistem peringatan dini yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Dalam konteks ini, BMKG berperan di hulu sebagai penyedia data, informasi, dan peringatan dini berbasis sains.

“BMKG berada di hulu. Kami menyediakan data, kemudian didukung  big data  dan analisis. Selanjutnya, di  Pusat Komando Penanggulangan Bencana  ditetapkan langkah-langkah yang harus dilakukan,” ujar Faisal yang mengikuti webinar secara berani melalui Zoom.

Ia menjelaskan, hasil analisis tersebut kemudian didiseminasikan melalui berbagai saluran komunikasi, mulai dari peringatan dini resmi, media sosial, hingga aplikasi perpesanan. Penyebaran informasi yang cepat, tepat, akurat, dan mudah dipahami menjadi kunci agar peringatan dini tidak berhenti pada penyampaian pesan, tetapi tidak mampu mendorong aksi penyelamatan di lapangan.

“Intinya BMKG bekerja di hulu memberikan  peringatan dini . Harapannya nanti tidak hanya sampai pesan peringatan dininya, tapi juga dapat dipahami dan menimbulkan aksi penyelamatan atau  tindakan dini  menuju  Zero Victim ,” jelasnya.

Untuk mendukung sistem tersebut, BMKG saat ini mengoperasikan lebih dari 191 unit pelaksana teknis (UPT) yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan dukungan sekitar 10.800 peralatan operasional utama. BMKG juga mengelola 44 radar cuaca berstandar  World Meteorological Organization  (WMO), sejumlah stasiun  Global Atmospheric Watch  (GAW), serta dua superkomputer yang berlokasi di Jakarta dan Bali.

Berbagai sistem peringatan dini berbasis multi-bahaya juga ikut dioperasikan BMKG, seperti Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS), Meteorological Early Warning System (MEWS), hingga Tropical Cyclone Warning Center (TCWC), yang dirancang untuk memberikan peringatan secara cepat dan akurat.

Selain peringatan dini, BMKG juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai bagian dari upaya mitigasi dampak cuaca ekstrem, termasuk untuk mengurangi risiko banjir serta kebakaran hutan dan lahan di wilayah rawan bencana.

Lebih lanjut, Faisal menekankan bahwa penguatan teknologi harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas masyarakat. Oleh karena itu, BMKG secara konsisten menyelenggarakan berbagai program edukasi, seperti Sekolah Lapang Cuaca bagi nelayan, literasi iklim bagi generasi muda, program BMKG Goes to School, hingga kunjungan edukatif ke kantor-kantor BMKG. Berbagai materi edukasi dan video mitigasi bencana juga disediakan melalui saluran resmi BMKG untuk memperkuat kesiapan masyarakat.

“Kita terus meningkatkan pelibatan masyarakat melalui berbagai pembelajaran, pengajaran, dan edukasi yang berkelanjutan,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, Faisal turut serta menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan risiko bencana. Menurutnya, pembangunan yang tangguh terhadap bencana memerlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat.

Ia mengapresiasi peran Universitas Gadjah Mada yang selama ini aktif mendukung penguatan kapasitas kebencanaan melalui kuliah lapangan, program magang, serta pengembangan penelitian bersama.

“Ke depan, kami berharap kolaborasi ini tidak hanya berhenti pada kunjungan, tetapi berkembang menjadi riset-riset kolaboratif yang memberikan manfaat,” tutupnya.

Sementara itu, Dekan Teknik UGM, Selo, menyampaikan bahwa webinar  Early Warning, Early Action  menjadi forum strategis untuk merumuskan pemikiran dan rekomendasi dalam menanggapi meningkatnya bencana hidrometeorologi Fakultas.

“Melalui forum ini, kami berharap lahir rekomendasi komprehensif yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam memperkuat kesiapsiagaan dan ketahanan bencana di Indonesia,” ujarnya.

Webinar ini juga menghadirkan nara lintassumber sektor, antara lain Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, ilmuwan UGM, serta panelis dari komunitas dan lembaga internasional. Kegiatan tersebut diikuti oleh peserta dari unsur pemerintah, akademisi, pelajar, komunitas, dan praktisi, baik secara luring maupun bold.(*)

 

- Advertisement -spot_imgspot_img
Latest news
- Advertisement -spot_img
Related news
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here